Der Jadenstaat (Negara Yahudi) ; Zionism

"Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar" (QS. 17:4)
Elisabeth Diana Dewi dalam karya ilmiahnya, The Creation of The State menguraikan bahwa secara filosofi, negara Israel dibentuk berdasarkan tiga keyakinan yang tidak boleh dipertanyakan: (a) tanah Israel hanya diberikan untuk bangsa pilihan Tuhan sebagai bagian dari Janji-Nya kepada mereka. (b) pembentukan negara Israel  modern adalah proses terbesar dari penyelamatan tanah bangsa Yahudi. (c). pembentukan negara bagi mereka adalah solusi atas sejarah penderitaan Yahudi yang berjuang dalam kondisi tercerai berai (diaspora). Maka merebut kembali seluruh tanah yang dijanjikan dalam Bibel adalah setara dengan penderitaan mereka selam 3000 tahun. Oleh sebab itu semua bagsa non-Yahudi yang hidup di tanah itu adalah perampas dan layak untuk dibinasakan.

Ide mendirikan negara Yahudi dalam perkembangan  gerakan Zionis, banyak dipengaruhi oleh Theodore Herz melalui tulisannya, Der Jadenstaat (Negara Yahudi). Dalam bukunya, ia mendorong organisasi Yahudi dunia untuk meminta persetujuan Turki Usmani sebagai penguasa di Palestina agar diizinkan membeli tanah disana, Pembelian lahan-lahan milik palestina tersebut sebagai langkah awal dalam mengambil alih Palestina. Namun, dalam masa pemerintahan Turki Usmani, Kaum Yahudi hanya diizinkan memasuki Palestina untuk melaksanakan ibadah, bukan sebagai komunitas yang punya ambisi politik (lihat:Palestine and The Arab-Israeli Conflict, 2000:95). Keputusan ini memicu gerakan Zionis radikal, yang mana gerakan tersebut juga mendapatkan dukungan dari negara-negara Barat. Bersamaan dengan semakin melemahnya pengaruh Turki Usmani sebagai penguasa di Palestina, para imigran Zionis berdatangan setelah berhasil membeli tanah di Palestina Utara. Imigrasi besar-besaran ini pun berubah menjadi penjajahan tatkala mereka berhasil menguasai ekonomi, sosial dan politik di Palestina dengan dukungan Inggris (Israel, Land of Tradition and Conflict, 1993:27).

Berakhirnya Perang Dunia I, Inggris  berhasil menguasai Palestina dengan mudah. Sherif Husein di Mekah yang di lobi untuk memberontak kekuasaan Turki juga meraih kesuksesan. (1948 and After: Israel and Palestine, 1990:149). Selanjutnya, Perang Dunia II juga membawa berkah bagi kelompol Zionisme. Mereka berhasil menarik negara-negara pemenang Perang Dunia II (Inggris, Perancis, Rusia, dan Amerika Serikat) dengan dalih membesar-besarkan pembunuhan/pembantaian terhadap kaum Yahudi oleh Nazi Jerman (Adolf Hitler), yang dikenal dengan "holocaust" sehingga sepakat untuk menebus dosa Nazi Jerman dengan menghadiahkan kepada mereka sebuah negara. Selanjutnya sang negara pemenang tersebut memperalat PBB untuk mengeluarkan Resolusi pendirian Negara Israel dengan mencaplok negara Palestina (Resolusi PBB No. 181, 29 November 1947).

Berdasarkan Resolusi PBB tersebut, kelompok Zionis membuat suatu rencana yang disebut Plan Dalet, yang berisi rangkaian operasi militer secara berkesinambungan untuk menaklukkan dan merebut seluruh wilayah. Rakyat Palestina semakin terdesak dan menjadi sasaran pembantaian. (2000:173). Agresi Zionis terus berlanjut, 360 desa dan 14 kota yang didiami rakyat Palestina dihancurkan dan lebh 726.000 jiwa terpaksa mengungsi. Akhirnya pada Jum'at, 14 Mei 1948, negara baru Israel dideklarasikan oleh Ben Gurion, bertepatan dengan 8 Jam sebelum Inggris dijadwalkan meninggalkan Palestina. dan Presiden Amerika Serikat, Harry Truman menyatakan pengakuannya atas negara Israel, diikuti oleh negara-negara Eropa pendukung Zionisme. Untuk strategi mempertahankan keamanannya di masa berikutnya, Israel terus menempelkan AS hingga berhasil mendapat pinjaman 100 juta USD untuk mengembangkan senjata Nuklir.


________________________________________ 
Komentar anda membuktikan diri anda ADA !!! 
billahi fii sabiilil haq, fastabiqul khaerat. Syukron katsiran...
Reactions:

0 comments:

Post a Comment