HAM : Potret Teologi Islam


"HAM (Hak Asasi Manusia) adalah alat yang diciptakan dengan tujuan untuk mempermudah/memperbaiki kehidupan bermasyarakat atau kemanusiaan, namun seperti halnya alat tentu tak lepas dari manfaat kabaikan dan keburukan, tergantung sang pemakai"
Kamis, 02 Maret 2017, Itulah hasil diskusi yang saya dapatkan pada bincang sore, "Wajah HAM Masa Kini" dengan narasumber Mujahid Zulfadli Aulia Rahman (Alumni SeHaMa IV, Sekolah Hak Asasi Manusia).

HAM atau Hak Asasi Manusia merupakan hak fundamental / hak dasar yang melekat pada diri manusia sejak lahir yang tidak dapat diganggu gugat dan bersifat tetap sampai dia mati sebagai anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa. Semua orang memiliki hak untuk menjalankan kehidupan dan apa yang dikehendakinya selama ia tidak melanggar norma dan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Lahirnya HAM, menurut pakar-pakar eropa didasari oleh lahirnya Magna Charta (1215) yang kemudian diikuti dengan lahirnya Bill of Right (1689) yang perkembangannya lebih jelas, dimana manusia dimata hukum adalah sama (equality before the law). sehingga mempertegas muncul nya negara hukum dan demokrasi.

Perkembangan HAM selanjutnya memunculkan The American Declaration of Independence yang lahir dari paham Roesseau dan Montesqueu. Selanjutnya, Pada tahun 1789 Lahirlah French Declaration, dimana hak-hak yang lebih rinci lagi melahirkan The Rule of Law. Hingga pada akhirnya, pasca Perang Dunia II, PBB merumuskan Rumusan HAM yang disebut dengan DUHAM (Declaration Universal Hak Asasi Manusia / The Universal Declaration Human Right) 1948.

Agama (Islam) datang menawarkan konsep humanity/humanitas, tentang bagaimana memanusiakan manusia. Dalam buku panduan guru berjudul "Pendidikan Al Islam yang Berwawasan HAM". Menurut buku ini, tidaklah cukup dalam ber-Islam, kita hanya berdasarkan kepada Al-Qur'an dan Sunnah saja, tapi mesti ditambah lagi dengan berdasarkan pada HAM atau berwawasan HAM. sebagaimana Islam diturunkan sebagai upaya liberasi, membebaskan manusia dari seluruh bentuk penistaan, penindasan, perbudakan dan lainnya yang termasuk pelanggaran atas HAM. Olehnya itu, Dalam memahami Al-Qur'an dan Sunnah itu perlu berdasar pada HAM.

Memahami Agama (Islam) dengan berdasar HAM, Al-Qur'an dan Hadist tentunya mengajak kita dalam menerapkan konsep DUHAM (Deklarasi Hak Asasi Manusia) yang mana dituliskan ;
"Deklarasi ini berisi 30 pasal yang dirancang untuk mencapai standar bersama tentang hak dan kebebasan bagi semua orang dan bangsa. Secara inividu maupun kolektif, kita semua harus secara terus menerus mengupayakan terpenuhinya hak-hak kebebasan tersebut. Tentu saja ini bisa disebarluaskan dan ditanamkan melalui pengajaran dan pendidikan." (Hal.9)
Menetapkan HAM sebagai acuan dalam memahami agama (Islam), diatas Al-Qur'an dan Hadist tentunya akan selalu kita tolak sebagai umat beragama Islam kecuali bagi meraka kaum-kaum sekuler/liberal. 
Sebagai muslim, kita ketahui bersama bahwa HAM, demokrasi, kesetaraan gender, dan paham atau gagasan baru lainnya itu haruslah kita lihat dari kecamata Al-Qur'an dan Hadist, bukan dari arah sebaliknya. karena, jika kita cermati, konsep HAM masihlah konsep yang bermasalah, ada yang bisa kita terima dan ada pula yang tidak bisa kita terima.
Sebagai contoh, pada pasal 16 DUHAM menyatakan :
"Laki-laki dan wanita yang telah dewasa, tanpa dibatasi faktor ras, kebangsaan atau AGAMA, memiliki hak menikah dan membentuk keluarga. Mereka mempunyai hak yang sama terhadap pernikahan, selama pernikahan dan saat perceraian."
Dari Pasal diatas, kita tahu bahwa pernikahan merupakan hak bebas, tidak ada intervensi dari siapapun termasuk agama. Padahal Islam telah tegaskan bahwa masalah pernikahan sudah jelas aturannya. Wanita Muslimah haram menikah dengan laki-laki kafir (non-muslim). Karena bagi islam, faktor agama adalah soal mendasar dalam membangun ikatan kasih sayang. Tidaklah mungkin dua insan yang berbeda iman akan dapat membangun ikatan yang sejati.
"Kamu tidak akan jumpai suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, atau anak-anak atau saudara-saudara, atau pun keluarga mereka." (QS. Al Mujadilah:22)
Selanjutnya, pada pasal 18 DUHAM menyatakan :
"Setiap orang mempunyai hak untuk bebas berpikir berkeyakinan, dan beragama; hak ini mencakup hak untuk berganti agama atau kepercayaan dan kebebasan, baik sendiri atau di tengah masyarakat, baik di tempat umum atau tersendiri, untuk menyatakan agama atau kepercayaannya dengan mengajarkan, mempraktikan atau mengamalkannya."
Bagi kaum-kaum sekuler yang mengkonsep DUHAM itu tidaklah memandang penting soal keberagamaan, atau pergantian keyakinan, baik itu Islam, Nasrani, Yahudi, Ateis atau lainnya, yang terpenting adalah keimanan kepada HAM yang tidak melanggar kebebasan yang telah di tetapkan. Mereka tidak peduli apakah keyakinan/aliran itu menyimpang atau melecehkan suatu agama lain. yang penting adalah bebas beragama, apapun keyakinan atau alirannya.

Padahal dalam Islam sendiri, telah mengatur soal pergantian keyakinan / murtad, yang mana hal ini adalah masalah serius, masalah aqidah dan ketauhidan kita. Tujuan Islam diturunkan yakni mengajarkan konsep monoteisme / Ketuhanan yang Maha Esa. Dalam Islam ;Tiada Ilah Selain Allah, artinya meniadakan segala Tuhan-tuhan dan Penghambaan Hanya kepada Allah, Tuhan yang maha Esa.
"Barangsiapa yang Murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dan dia dalam keadaan kafir, maka terhapuslah segala amal perbuatannya di dunia dan akhirat dan mereka itu penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah:217)
HAM (Hak Asasi Manusia) jika di tinjau di Indonesia, telah banyak kasus-kasus yang terjadi, baik itu pelanggaran terhadap HAM, maupun pemanfaatan akan HAM itu sendiri. sehingga HAM masihlah menjadi ambigu. Padahal telah banyak lembaga-lembaga/institusi menyangkut HAM, namun hanya sebatas Lembaga Pemerintahan, yang mana orang-orang pemerintahan sendirilah yang banyak melakukan pelanggaran HAM (data dari pusat statistik).
Olehnya itu, Indonesia pada sila Pancasila Pertama, "Ketuhanan yang Maha Esa". Penetapan HAM perlulah berlandaskan Agama, bukan sebaliknya. karena melalui Agamalah mengajarkan tentang kemanusiaan.

Islam sendiri telah mengajarkan HAM, "Berislam lah maka kalian akan berHAM". namun HAM bukanlah agenda yang mendesak karena jika ditinjau dari historia, HAM merupakan agenda barat dalam mencanangkan proses liberalisasi nya, penanaman ideologi yang menggeser nilai-nilai aqidah keberagaman. Lihatlah bagaimana wajah indonesia saat ini, nilai-nilai kearifan lokal kini luntur dan bertransformasi menjadi budaya barat.
"Jika kau katakan bahwa orang-orang pelanggar mayoritas islam, maka aku katakan mereka bukanlah Islam, mereka hanyalah orang-orang perusak yang bertopengkan Islam, yang telah tercemar dengan virus liberasi kafir."

"Orang-orang Nasrani dan Yahudi tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah (agama,keperayaan,budaya) mereka. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu (QS.Al-Baqarah:120)
Dari Abu Sa'id Al Khudri, ia berkata : " Rasulullah bersabda: 'sungguh kalian akan mengikuti jejak umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak seklaipun, niscaya kalian pun akan masuk kedalamnya'. Sahabatpun bertanya: 'Wahai Rasulullah, Apakah kaum Yahudi dan Nasrani', Sabda beliau: "siapa lagi". (HR. Bukhari dan Muslim)
Olehnya itu, Hatilah-hatilah dengan agenda mereka (kaum Kafirun), karena mereka akan terus bergerak hingga kalian masuk bersamanya...
Reactions:

0 comments:

Post a Comment